Rilda A. Oe. Taneko (Media Indonesia, 25 Mei 2014)
Jalur Seleksi Masuk PTN 2017
By : Rika Wijayanti
Jalur
Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri
1.
SNMPTN
SNMPTN atau Seleksi Nasional Masuk
Perguruan Tinggi Negeri adalah jalur seleksi undangan masuk PTN yang seleksinya
dilakukan tanpa tes, tetapi didasarkan pada nilai rapor siswa dan prestasi lain
yang relevan.
a
Pendaftaran SNMPTN dilakukan secara
online. Apabila Anda akan melakukan pendaftaran SNMPTN, silahkan baca terlebih
dahulu persyaratan SNMPTN dan ketentuan lainnya di http://www.snmptn.ac.id
Berikut alur pendaftaran SNMPTN.
b
Jadwal SNMPTN 2017
Kegiatan
|
Jadwal
|
Pengisian
PDSS
|
14
Januari – 10 Februari 2017
|
Verifikasi
PDSS
|
15
Januari – 12 Februari 2017
|
Pendaftaran
SNMPTN
|
21 Februari – 6 Maret
2017
|
Pencetakan
Kartu Tanda Peserta SNMPTN
|
14
Maret – 14 April 2017
|
Proses
Seleksi
|
15
Maret - 15 April 2017
|
Pengumuman
Hasil Seleksi
|
26
April 2017
|
2.
SBMPTN
SBMPTN atau Seleksi Bersama Masuk
Perguruan Tinggi Negeri adalah jalur seleksi ujian tertulis nasional masuk PTN.
Jalur ini biasanya dibuka setelah jalur SNMPTN ditutup. Apabila kalian tidak
mendapatkan kesempatan mengikuti jalur SNMPTN atau telah mengikuti jalur SNMPTN
tetapi dinyatakan tidak lulus, maka dapat mengikuti seleksi jalur SBMPTN. Jalur
SBMPTN diperuntukkan bagi siswa lulusan SMA/sederajat yang telah lulus 3 tahun
terakhir termasuk lulusan tahun ini.
a
Pendaftaran SBMPTN dilakukan secara
online. Apabila Anda akan melakukan pendaftaran SBMPTN, silahkan baca terlebih
dahulu persyaratan SBMPTN dan ketentuan lainnya di http://www.sbmptn.ac.id
Berikut alur pendaftaran SBMPTN.
b
Jadwal Pendaftaran SBMPTN 2017
Kegiatan
|
Jadwal
|
Pendaftaran
online Paper-Based Testing (PBT)
dan Computer-Based Testing (CBT)
|
14
April – 5 Mei 2017
|
Ujian
tertulis (PBT dan CBT)
|
16
Mei 2017
|
Ujian
Keterampilan
|
17 Mei 2017 dan/atau
18 Mei 2017
|
Pengumuman
|
13
Juni 2017
|
3. Jalur Bidikmisi
Bidikmisi adalah bantuan pendidikan
yang hanya ditujukan untuk calon mahasiswa yang memiliki latar belakang ekonomi
kurang mampu, tetapi memiliki prestasi dalam pendidikan. Pendaftaran bidikmisi
dilakukan dilakukan secara online. Silahkan
lakukan pendaftaran dengan mengikuti alur pendaftaran bidikmisi berikut ini.
Kegiatan
|
Jadwal
|
Pendaftaran
sekolah
|
14
Januari 2017 – 1 September 2017
|
Pendaftaran
siswa
|
14
Januari 2017 – 1 September 2017
|
SNMPTN
|
18
Februari 2017 – 6 Maret 2017
|
Seleksi
Mandiri PTN
|
25
Februari 2017 – 1 September 2017
|
PMDK-PN
|
25
Februari 2017 – 1 Mei 2017
|
SBMPTN
|
8
April 2017 – 5 Mei 2017
|
Seleksi
Mandiri PTS
|
22
April 2017 – 1 September 2017
|
UMPN
|
4
Mei 2017 – 10 Juni 2017
|
4.
Jalur Mandiri
Jalur penerimaan Ujian Mandiri
adalah seleksi penerimaan mahasiswa baru yang belum memiliki kesempatan untuk
lulus SNMPTN dan SBMPTN. Proses seleksi jalur mandiri dilakukan oleh perguruan
tinggi masing-masing. Untuk pendaftaran jalur mandiri, silahkan dilihat di
website universitas yang Anda tuju.
Tag :
Terkini,
Cara Lapor e-Filing 2017
By : Rika Wijayanti
e-Filing,
Cara Mudah, Cepat, dan Aman Lapor Pajak
Saat ini, salah satu
wujud nyata peran serta masyarakat dalam pembangunan bangsa adalah dengan
membayar pajak. Sistem self assessment yang telah berjalan selama lebih dari
tiga dekade telah terbukti menjadikan pajak sebagai tulang punggung penerimaan
negara guna membiayai pembangunan negeri ini. Sistem pemungutan pajak ini telah
berhasil menggerakkan tanggung jawab menghitung, memperhitungkan, membayar dan
melaporkan pajak ke pundak masyarakat sendiri.
Dalam sistem self
assessment, pelaksanaan kewajiban perpajakan setiap tahunnya diakhiri dengan
kegiatan pelaporan pajak melalui penyampaian surat pemberitahuan (SPT) tahunan.
Sistem ini juga mengamanatkan bahwa meskipun pelaksanaan pembayaran pajak telah
dilakukan melalui mekanisme pemotongan oleh pihak lain, misalnya oleh pemberi
kerja, para pembayar pajak tetap berkewajiban menyampaikan SPT tahunan. Hal
inilah yang dapat menjelaskan mengapa para karyawan, pekerja atau pegawai yang
pajak penghasilannya telah dipotong oleh pemberi kerja tetap wajib mengisi dan
menyampaikan SPT tahunan ke kantor pajak.
Mengacu pada hal
tersebut di atas, tidak mengherankan apabila tahun ini Pemerintah telah
mewajibkan seluruh Aparatur Sipil Negara, Anggota Tentara Nasional Indonesia,
dan Kepolisian Republik Indonesia menyampaikan SPT tahunan pajak penghasilan
(PPh) orang pribadi melalui e-filing. Seruan Pemerintah ini hendaknya juga
diikuti oleh karyawan BUMN/BUMD dan juga seluruh tenaga kerja di berbagai
sektor, baik profit maupun non-profit.
Apakah e-filing itu?
E-filing adalah suatu cara penyampaian SPT tahunan PPh secara elektronik yang
dilakukan secara online dan real time melalui internet pada laman (website) DJP
Online (https://djponline.pajak.go.id) atau laman penyedia layanan SPT elektronik.
DJP Online adalah layanan pajak online yang disediakan oleh Direktorat Jenderal
Pajak (DJP) melalui laman dan/atau aplikasi untuk perangkat bergerak (mobile
device). Adapun penyedia layanan SPT elektronik merupakan pihak yang ditunjuk
untuk menyelenggarakan layanan yang berkaitan dengan proses penyampaian
e-filing ke DJP, yang meliputi penyedia aplikasi SPT elektronik dan penyalur
SPT elektronik.
Mengapa harus e-filing?
Tidak dapat dipungkiri, e-filing adalah sebuah produk inovasi perkembangan
teknologi informasi yang disediakan untuk memudahkan sekaligus meningkatkan
pelayanan kepada para pembayar pajak dalam melaksanakan hak dan memenuhi
kewajiban perpajakannya. Dengan e-filing, kegiatan mengisi dan mengirim SPT
tahunan dapat dilakukan dengan mudah dan efisien karena telah tersedia formulir
elektronik di layanan pajak online yang siap memandu para pengguna layanan.
Selain itu, layanan pajak online dapat diakses kapan pun dan dimana pun,
sehingga penyampaian SPT melalui e-filing dapat dilakukan setiap saat selama 24
jam. Dan tentunya, dalam e-filing tidak diperlukan lagi dokumen fisik berupa
kertas-kertas karena semua dokumen akan dikirim dalam bentuk dokumen
elektronik.
Bagaimana cara
menggunakan e-filing? Bagi pembayar pajak yang baru pertama kali menggunakan
e-filing, langkah awal yang harus dilakukan adalah mengajukan permohonan
aktivasi EFIN ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP) atau Kantor Pelayanan Penyuluhan
dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP). EFIN atau Electronic Filing Identification
Number adalah nomor identitas yang diterbitkan oleh DJP kepada pembayar pajak
yang melakukan transaksi elektronik dengan DJP. Untuk pembayar pajak orang
pribadi, permohonan aktivasi EFIN harus dilakukan sendiri oleh yang
bersangkutan, tidak diperkenankan untuk dikuasakan kepada pihak lain. Untuk
pembayar pajak badan, permohonan aktivasi EFIN dilakukan oleh pengurus yang
ditunjuk untuk mewakili badan dalam rangka melaksanakan hak dan kewajiban
perpajakannya.
Setelah memperoleh
EFIN, langkah selanjutnya adalah mendaftarkan diri dengan membuat akun pada
layanan pajak online, yakni di laman DJP Online atau laman penyedia layanan SPT
elektronik. Siapkan data yang dibutuhkan untuk melakukan pendaftaran, yaitu
NPWP dan EFIN. Masukkan NPWP, nomor EFIN, dan kode keamanan kemudian klik
“verifikasi”. Selanjutnya, sistem secara otomatis akan mengirimkan identitas
pengguna (NPWP), password, dan link aktivasi melalui email yang Anda daftarkan.
Klik link aktivasi tersebut. Setelah akun diaktifkan, silahkan login kembali
dengan NPWP dan password yang sudah diberikan.
Langkah terakhir adalah
mengisi dan mengirim SPT tahunan. Pastikan Anda masuk ke layanan e-filing pada
laman layanan pajak online. Selanjutnya pilih “buat SPT”. Ikuti panduan yang
diberikan, termasuk yang berbentuk pertanyaan. Isi SPT mengikuti panduan yang
ada. Apabila SPT sudah dibuat, sistem
akan menampilkan ringkasan SPT. Untuk mengirim SPT tersebut, ambil terlebih
dahulu kode verifikasi. Kode verifikasi akan dikirim melalui email Anda.
Masukkan kode verifikasi dan setelah itu klik “kirim SPT”. Selesai.
Perlu diperhatikan
bahwa untuk Tahun Pajak 2015, batas waktu penyampaian SPT tahunan PPh melalui
e-filing menurut ketentuan undang-undang perpajakan adalah tanggal 31 Maret
2016 untuk pembayar pajak orang pribadi
dan 30 April 2016 untuk pembayar pajak badan. Mari segera tunaikan kewajiban
perpajakan Anda dengan mengisi dan menyampaikan SPT tahunan melalui e-filing
karena #PajakMilikBersama.
Petunjuk
Registrasi dan Pengisian e-Filing dapat disimak pada gambar berikut:
Gambar 1: Petunjuk Registrasi e-Filing
Gambar 2: Petunjuk Pengisian e-Filing
Sumber: http://www.pajak.go.id/content/article/e-filing-cara-mudah-cepat-dan-aman-lapor-pajak
Tag :
Terkini,
Seekor Capung Merah
By : Rika WijayantiSeekor Capung Merah
TIRAI bambu melindungiku dari hangat mentari yang mulai terbenam. Aku berdiri di beranda rumahnya Rumi, tetangga sebelah rumahku, dan memanggil-manggil namanya. Di samping tirai bambu, sebuah lonceng angin berkelening.
Rumi muncul dari balik pintu kawat nyamuk. Wajahnya ditutupi bedak putih. Dia menyukai itu. Dia selalu menepuk-nepuk wajahnya dengan bedak tebal setelah mandi sore.
“Datanglah ke lapangan denganku,” pintaku.
“Tapi aku sedang menonton TV,” kata Rumi.
Di jam seperti ini, televisi sedang menanyangkan sebuah kartun Jepang. Sebuah film tentang robot jahat, yang merusak seluruh bumi, dan lima orang pahlawan yang, di akhir film, selalu berhasil menyelamatkan semesta. Sebenarnya kartun itu adalah kartun favoritku juga. Tapi, sore itu aku terlalu takut untuk tinggal di rumah dan menonton televisi.
“Ayolah ikut aku,” aku berbisik, “Aku punya rahasia.”
Rumi selalu menyukai rahasia. Dia menghilang ke dalam rumahnya untuk berpamitan dengan ibunya. Kemudian kami berjalan berdampingan. Keliman bordir dari daster kami bergerak harmonis. Kaki kami telanjang. Aku bisa merasakan batuan padat dan tanah di bawah kakiku.
Rumi berusia satu tahun lebih tua dan bertubuh sedikit lebih tinggi dariku. Aku berumur sembilan saat itu, dan apa yang terjadi di rumah membuatku teramat takut.
***
SAAT kami tiba di lapangan, langit berwarna violet gelap. Azan dari masjid menggema, bersahut-sahutan. Capung-capung terbang di atas ujung runcing ilalang. Berbeda dengan sebagian besar capung yang berwana hijau, beberapa dari mereka berwarna merah. Mereka tampak benar-benar indah.Angin bertiup malas, menggerakkan ilalang ke kiri dan ke kanan, kiri dan kanan. Angin membawa bau daun terbakar. Gemerisik daun kelapa membuatku mengantuk.
Rumi mengambil beberapa helai bunga ilalang. Dia memberiku satu dan menyuruhku meletakkan ilalang itu secara horisontal di antara bibirku. Dia mengatakan rasa ilalang itu manis. Aku mengikuti instruksinya dan betapa terkejutnya aku, Rumi menarik ujung ilalang itu dari bibirku. Bunga ilalang yang kemerahan tersisa di mulutku, membuatku terbatuk. Rumi tertawa. Aku mengejarnya, membelah tinggi ilalang. Ketika akhirnya aku berhasil melintasi ilalang dan sampai di ujung lain lapangan, kakiku terasa sangat gatal. Rumi juga menggaruk-garuk tangan dan kakinya.
“Apa rahasianya?” tanya Rumi. “Katakan padaku.”
Rumi duduk di sebuah bangku semen persegi panjang di dekat pohon pepaya sambil membungkuk, menyentuhi dedaun putri-malu. Seekor capung merah berada di dekat Rumi. Capung itu membuat lingkaran di atas kepala Rumi beberapa kali dan kemudian hinggap di daun pepaya.
“Tadi aku mandi,” kataku sambil mengebaskan tangan di samping telinga. Aku mendengar denging nyamuk.
“Terus?” tanya Rumi tak sabar.
Pada saat itu, aku mendengar ayahku memanggilku dari kejauhan. Mendengar suara ayah, aku menangis.
Ayah mendekati kami. Dia tampak begitu tinggi, gelap dan besar. Kumisnya begitu tebal. Dia berdiri tak jauh dari lampu jalan, di jalan tanah di dekat lapangan, dan memintaku untuk segera pulang.
“Jangan menangis,” pintanya.
Tapi tetap saja aku menangis tersedu-sedu. Ayah membungkuk, menyamakan tinggi wajahnya dengan wajahku.
“Ayah tahu kamu tidak sengaja. Sudah, tidak apa-apa.”
“Tapi itu kamar mandi yang baru Ayah bangun,” kataku.
“Tidak apa-apa,” ayah menjawab sambil tersenyum. Dia membelai rambutku.
Aku tahu sesungguhnya ayah kecewa. Dia menghabiskan banyak uang untuk membangun kamar mandi itu. Kamar mandi itu baru saja selesai dua hari yang lalu, berlantai dan berdinding keramik biru. Meski tidak ada kloset siram, tapi kloset yang ada bersih dan biru. Kamar mandi itu memiliki pancuran dan ada keran air di bawah pancuran itu.
Senja tadi, ketika aku mandi dengan kakakku, kami berlarian dan berputar-putar di bawah air pancuran. Lalu aku mulai bermain dengan keran air, membuka dan menutupnya, membuka dan menutupnya. Setelah itu, aku mengalungkan tanganku di pipanya, mengangkat tubuhku dan bergantung di pipa. Pipa itu retak dan air tersembur keluar.
Serta-merta kakakku berteriak memanggil pelayan kami, Mbak Soep, yang kemudian datang dengan berlari dan panik. Mbak Soep mengambil banyak kantong plastik dari dapur dan memasukkannya ke dalam lubang pipa. Air berhenti menyembur. Tapi itu tidak membuatku berhenti menangis.
Ayah selalu marah jika aku dan kakakku datang terlambat ke sekolah, atau jika kami melakukan kesalahan. Aku begitu takut menghadapi saat ayah pulang kerja, karenannya aku menyelinap keluar dari rumah dan memanggil Rumi.
Tetapi, di lapangan ilalang tempat capung-capung berterbangan, aku bisa melihat bahwa ternyata ayah tidak marah. Awalnya ayah tampak begitu khawatir. Tapi kemudian ia tampak lega ketika ia menemukanku.
“Kamu harus pulang sekarang, begitu juga dengan Rumi. Berbahaya bagi anak-anak untuk bermain sendiri ketika hari sudah gelap.”
Ayah meraih tanganku dan Rumi. Sebelum meninggalkan lapangan, ia menatap sekitar. Melalui matanya, aku bisa merasakan bahwa ia takut akan sesuatu. Sesuatu yang jauh lebih besar dari dirinya.
***
SEHARI setelah malam itu, aku tidak diizinkan untuk pergi jauh dari rumah. Ayah hanya beralasan hal itu berbahaya. Dari Mbak Soeplah aku tahu bahwa ada orang-orang jahat di luar sana. Mbak Soep berkata orang-orang itu meracuni sumur warga dan menculik anak-anak. Mereka juga membunuh orang-orang dewasa. Mereka mengenakan pakaian hitam dari kepala sampai kaki, hanya bagian mata yang terlihat, seperti ninja.Tidak ada seorang pun yang pernah melihat mereka. Meski begitu, tampaknya, semua orang tahu tentang mereka, seolah cerita tentang ninja-ninja itu berasal dari burung-burung kecil yang berkicau atau angin yang bertiup.
Jadi hal itulah yang aku sampaikan pada Rumi, ketika kami duduk berdampingan di bangku kayu di depan rumahku. Mbak Soep menyapu daun rambutan di pekarangan dengan sapu lidi, tidak jauh dari tempat Rumi dan aku duduk.
“Ninja-ninja itu tidak ada,” kata Rumi.
Aku mengerutkan kening.
“Bapakku bilang itu hanya karangan saja. Untuk menakut-nakuti orang-orang. Bapakku bilang, sesungguhnya yang jahat adalah yang mengarang cerita bohong. Bapakku tidak mengizinkan aku berbohong,” terang Rumi.
Ayahnya Rumi mengajar di universitas terbaik di provinsi kami. Rumi dan keluarganya baru saja kembali dari Eropa dua tahun lalu. Mereka menghabiskan lebih dari delapan tahun di Eropa untuk pendidikan ayahnya Rumi.
Ayahnya Rumi sering mengunjungi kota-kota dan kampung-kampung untuk memberikan ceramah atau kuliah tentang Islam. Ayahku pernah bilang ia adalah seorang idealis.
“Tapi kenapa ada yang mau mengarang cerita mengerikan seperti itu? Mengapa mereka ingin membuat orang takut?” tanyaku pada Rumi.
“Aku tidak tahu,” jawab Rumi.
“Aku tidak mau diculik,” kataku.
“Aku juga,” balas Rumi.
“Aku tidak mau orangtuaku dibunuh,” kataku.
“Aku juga,” Rumi menyetujui.
“Kalau ternyata ninja-ninja itu benar ada, apa yang harus kita lakukan?” tanyaku.
Alis Rumi bertaut. Ia mengigiti kuku jempol tangan kanannya.
Tak lama kemudian, Rumi berkata, “Mungkin jika rumah kita terlihat kosong, mereka tidak akan pernah datang.”
“Ya,” kataku, “aku setuju.”
Oleh karena itu, kami mengambil serakan daun dan tanah dari halaman. Kami menaburkan daun di setiap sudut rumah, lalu menggosok-gosokkan tanah ke dinding putih, agar terlihat kotor.
Mbak Soep marah besar ketika mendapati apa yang kami lakukan.
***
KEESOKAN paginya, saat sarapan, dari percakapan ibu dan ayah, aku tahu bahwa pemerintah, polisi dan tentara telah menyuruh semua orang untuk tinggal di rumah. Tak seorang pun diizinkan untuk keluar, terutama di malam hari. Alasan mereka adalah demi keamanan.Kami semua berdiam di rumah. Orangtuaku tidak pergi bekerja. Kakakku dan aku tidak pergi ke sekolah.
Malam harinya, suasana di luar sangat tenang. Tidak ada suara penjual makanan, yang biasanya menjual makanan mereka di sekitar daerah perumahan kami dengan memukul-mukulkan tongkat bambu mereka pada gerobak, atau meneriaki nama makanan mereka: sate ayam, siomay atau bakso.
Kakakku dan aku menghabiskan malam dengan menonton televisi. Setelah itu kami pergi tidur lebih awal dari biasanya.
***
PAGI-PAGI sekali, aku mendengar kabar terburuk seumur hidupku: ada pembantaian massal. Ayahnya Rumi tewas dibunuh. Tiga hari yang lalu, ia pergi ke sebuah kampung, untuk memberi ceramah. Tadi malam, kampung itu diserang oleh tentara. Seluruh kampung dibakar. Perempuan dan anak-anak yang bersembunyi di sebuah masjid juga hangus dibakar. Beberapa orang mengatakan pembantaian itu dikarenakan beberapa tokoh kampung itu dianggap sebagai musuh negara.Banyak orang, termasuk semua tetangga kami dan kami, berbondong-bondong datang ke rumah Rumi. Semua orang berduka. Di dalam rumah, orang-orang duduk berdampingan, membaca Surah Ya Sin. Banyak pelayat yang menangis.
Harum melati, kenanga, mawar dan daun pandan dari keranjang bambu mengisi rumah. Satu-satunya hal yang kurang adalah jenazah ayahnya Rumi.
Aku mencari-cari Rumi dan tidak menemukannya di dalam rumah. Aku pergi ke halaman belakang. Di sana, banyak perempuan, yang menutupi rambut mereka dengan kerudung berwarna-warni, duduk di taras keramik biru. Mereka merangkai melati, kenanga dan bunga-bunga lain menjadi rantai-rantai kalung bunga yang sangat panjang.
Aku menemukan Rumi duduk di bawah pohon belimbing, tak jauh dari teras. Dia sedang menggurat bentuk-bentuk pada tanah dengan ranting. Ketika aku mendekat, aku melihat ada seekor capung merah hinggap di rambutnya yang hitam, serupa jepit rambut. Sayap-sayap merah capung itu beristirahat damai di kepala Rumi.
Capung itu membuat Rumi tampak begitu cantik.
Lancaster, Maret 2011
Rilda A. Oe. Taneko, berasal dari Lampung. Belajar menulis kreatif di The Story Institute dan Lancaster College. Kini ia menetap di Inggris.
Tag :
Cerpen,
Muslim, Ateis, Muslim Lagi
By : Rika Wijayanti
Muslim,
Ateis, Muslim Lagi
oleh: Rika Wijayanti
Novel
Kubah karangan Ahmad Tohari
menceritakan tentang lika-liku kehidupan tokoh Karman, baik dalam hubungannya
dengan Tuhan, wanita, maupun politik. Tokoh yang baru saja kembali dalam agama
dan masyarakatnya. Karman adalah seorang pria mantan tahanan politik (selama 12
tahun) yang baru terbebas dari pengasingannya di Pulau Buru. Keluar dari
penjara membuatnya bingung harus pulang ke mana. Istrinya, Marni dengan
terpaksa menikah dengan Parta karena alasan ekonomi. Ia juga khawatir dengan
tanggapan warga desa Pegaten terhadapnya.
Karman sebagai tahanan politik terlibat dalam
masalah kriminal yang serius, yaitu komunisme yang sangat ditentang di
Indonesia. Masalah kriminalitas merupakan suatu kenyataan sosial yang tidak
berdiri sendiri, tetapi berkaitan dengan masalah sosial, ekonomi, dan budaya
sebagai fenomena yang ada dan saling mempengaruhi satu sama lain. Dalam arti
kriminologis, kejahatan adalah perilaku yang bersifat susila dan merugikan,
menimbulkan banyak ketidaktenangan dalam suatu masyarakat tertentu, sehingga
masyarakat itu berhak menyatakan penolakannya. Hal inilah yang menyebabkan
kekhawatiran Karman. Ia takut tidak diterima lagi di desanya karena status
bekas tahanan politiknya.
Akhirnya Karman memutuskan untuk pulang ke rumah
kakaknya dan siapa sangka, justru ia mendapat sambutan hangat dari penduduk dan
tetangganya, bahkan juga anaknya yang bernama Rudio. Karman sempat menyaksikan
anak gadisnya, Tini menikah dengan Jabir, pemuda yang berasal dari keluarga
Haji Bakir yang sebelumnya pernah ia benci akibat lamarannya ditolak.
Dulu, keluarga Karman termasuk orang kaya karena
ayahnya bekerja sebagai pegawai gubermen
atau biasa disebut mantri di sebuah kota kecamatan. Namun, keadaan berubah
ketika Jepang mengambil alih Indonesia dari Belanda. Desa Pegaten mengalami
kemarau panjang dan hasil panen para warga direbut oleh tentara Jepang, maka warga
hanya dapat makan ubi saja. Ayah Karman yang tidak terbiasa makan ubi kemudian
menukarkan sawahnya dengan beras kepada haji Bakir. Lama-lama hartanya pun habis.
Keluarga Karman menjadi miskin, apalagi ketika ayahnya meningal, ia harus
bekerja menghitung hasil panen kelapa di rumah Haji Bakir demi memenuhi
kebutuhan hidup keluarganya.
Ayah Karman sebagai seorang mantri termasuk dalam
golongan priyayi. Ia merasa tidak pantas melakukan pekerjaan kasar seperti
menggarap sawah sendiri. Ahmad Tohari menampilkan realita lain di masyarakat. Penggolongan
masyarakat menurut status sosialnya terbagi menjadi golongan bangsawan
(priyayi), pemimpin adat, pemimpin agama, dan rakyat biasa. Kedudukan para
priyayi ini dimanfaatkan untuk kepentingan kolonial pada masa itu.
Ketika dewasa, Karman jatuh hati pada Rifah, tetapi
lamarannya ditolak oleh Haji Bakir. Hal ini membuat Karman marah dan dendam.
Saat itu ia juga sedang kesulitan mencari pekerjaan. Kesempatan ini lalu
dimanfaatkan dengan baik oleh Margo, antek partai komunis (Partindo) untuk
menjauhkan Karman dari orang-orang di sekitar yang dapat menghambat tujuannya. Karman
memang dari awal sudah dibidik agar mau masuk partai. Karman dijejali dengan
pandangan-pandangan komunis. Ia diberi pekerjaan yang baik sebagai pegawai
kecamatan. Sewajarnya, lulusan SMP seperti Karman belum bisa menjadi pegawai,
tetapi berkat bantuan Margo, semuanya menjadi mungkin. Orang-orang partai juga
mengetahui kegagalan Karman dalam memiliki Rifah, lalu mereka memberi solusi
dengan menawarkan Marni yang kelak menjadi istrinya dan melahirkan tiga orang
anak.
Diceritakan bahwa tokoh Karman adalah seorang muslim
yang berubah menjadi seorang ateis. Sebenarnya, ada kesalahpahaman di sini. Ateisme
tidak sama dengan komunisme. Seorang ateis bisa saja memiliki pandangan
liberal, sekuler, kapitalis, atau komunis. Ateisme adalah ketidakpercayaan
terhadap keberadaan Tuhan, sedangkan komunisme adalah paham yang menolak
kepemilikan barang pribadi dan beranggapan bahwa semua barang produksi harus
menjadi milik bersama. Salah satu penyebab dihubung-hubungkannya ateisme dan
komunisme adalah kata-kata Karl Marx “Agama adalah candu bagi massa rakyat”.
Kesan bahwa komunis itu ateis juga disebabkan oleh tindakan terhadap kehidupan
beragama yang banyak terjadi di negara-negara komunis.
Di Indonesia, cap ateis pada komunis dan sebaliknya
merupakan hasil propaganda rezim Orde Baru yang ingin melenyapkan partai besar
secara instan dalam jangka panjang. Guna mendapatkan dukungan kelompok agama,
maka rezim Orde Baru mempropagandakan bahwa komunis adalah ateis, musuh agama,
sehingga harus diberantas dari Indonesia. lebih dari satu juta orang dibunuh,
jutaan lainnya dirampas harta benda dan hak-hak sipilnya, dipenjara tanpa
pengadilan, dibuang ke Pulau Buru akibat kampanye antikomunis di tahun 1960an.
Dalam novel Kubah,
Ahmad Tohari juga lebih condong ke pandangan Karl Marx, bahkan ia mencantumkan
kata-kata Karl Marx tersebut dalam novelnya. Dari penjelasan sebelumnya kita
dapat memahami mengapa Tohari berpandangan demikian. Kurang lebih karena cap
ateis pada komunis yang dipropagandakan oleh Orde Baru. Di Indonesia, penguasa
dapat dengan mudah membentuk opini publik.
Setelah menjadi anggota partai Partindo, Karman
harus menerima kenyataan bahwa partai komunis gagal dalam melakukan kudeta. Ia
dicari oleh alat keamanan negara (polisi, TNI). Karman meninggalkan keluarganya
dan bersembunyi di kuburan lebih dari satu bulan. Hanya karena ia sakit perut
terpaksa keluar dari persembunyiannya dan akhirnya ditangkap penduduk.
Peralihan orde Lama ke Orde Baru diwarnai oleh peristiwa
kekacauan politik tahun 1965. Peristiwa yang dipicu konflik di tubuh Angkatan
Darat (AD) itu menyeret nama Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai dalang
penculikan dan pembunuhan tujuh perwira AD pada dini hari tanggal 1 Oktober
1965. Peristiwa tragedi kemanusiaan di Lubang Buaya itu kemudian diikuti oleh
aksi balas dendam berupa penangkapan dan pembunuhan atas anggota, simpatisan
PKI. PKI telah lama diidentikkan sebagai partai berideologi komunisme yang
ateis. Identitas ketidakbertuhanan orang-orang PKI ini kemudian menjadi alat
pembenaran bagi kalangan kelompok beragama untuk membunuh, memusnahkan, dan
mengucilkan orang-orang yang dituduh PKI.
Dua belas tahun kemudian, Karman bebas dari pulau B.
Tanda bahwa Karman telah diterima di desanya kembali adalah kepercayaan yang
diberikan kepada Karman untuk membangun kubah masjid desanya. Tadinya Karman
sebagai bekas PKI pesimis untuk kembali ke desanya karena ia takut tidak
diterima, tetapi kenyataan berkata lain hingga Karman merasa menemukan sesuatu
yang hilang dari dirinya.
Ahmad Tohari memaparkan peristiwa-peristiwa dalam
novelnya dengan jelas dan teliti. Tokoh-tokohnya memiliki karakter yang kuat
sesuai peran masing-masing. Penggambaran peristiwa juga dilakukan dengan baik. Setting
yang jelas dan detail mengingatkan kita pada daerah asal penulis, yaitu
Banyumas. Setting yang digambarkan Ahmad Tohari dalam novelnya ini dekat dengan
kehidupan sehari-harinya yang membaur dengan masyarakat pedesaan. Tohari
menggambarkan kembali realitas yang ada dalam masyarakat ke dalam realitas
ceritanya dengan hidup.
Kastaghetek sebagai tokoh yang muncul di bagian
akhir tampil dengan sisi religiusnya. Hal ini bukan tanpa maksud. Kastagethek
menggambarkan bagaimana orang miskin tetapi masih dalam ketaatan pada Tuhannya
dan selalu bersyukur atas segala hal yang didapatnya. Kastagethek mengajarkan
banyak hal, antara lain mensyukuri nikmat Tuhan, kesetiaan, ketaatan,
kesederhanaan, berserah diri pada Tuhan, dan sebagainya. Tentunya pertemuan
Karman dengan Kastagethek turut memperkuat alasan Karman untuk bertaubat.
Sayangnya tema utama belum dijabarkan dengan
maksimal. Tema utama novel ini adalah kembalinya kesadaran seorang muslim dalam
agama dan masyarakatnya. Walaupun terdapat peran kastagethek yang religius, Karman
yang baru saja keluar dari tahanan bisa langsung bertaubat, rasanya mustahil. Jatuhnya
Karman ke kelompok orang-orang partai seperti Margo dan Triman kurang mendapat penjelasan
yang cukup. Meskipun pengarang berhasil menjelaskan bagaimana komunis mencetak
kader-kadernya, tetapi pergolakan batin Karman kurang dieksplorasi.
Masalah ateisme juga dibahas pada novel Atheis oleh Achdiat Karta Mihardja.
Potret kehidupan tokoh Hasan yang sedari kecil dibesarkan dengan ajaran Islam
membuat Hasan tumbuh menjadi pemuda yang alim dan paham tentang Islam. Hasan
hidup dalam lingkungan keluarga yang menjadikannya taat terhadap Tuhan dan
agama. Namun, hidup Hasan tidak selamanya taat. Penggambaran tokoh-tokoh
seperti Rusli dan Kartini yang berpaham ideologi marxisme dan leninisme, serta
Anwar dengan ideologi nihilisme mendobrak keyakinan Hasan. Hasan ditempatkan di
lingkungan yang meniadakan Tuhan dalam kehidupan. Interaksi sosial yang intens
antara Hasan dengan Rusli, Kartini, dan Anwar membuktikan bahwa interaksi sosial
sangat mempengaruhi sudut pandang dan perilaku seseorang.
Konflik batin yang dirasakan Hasan memuncak ketika
Hasan sering berkunjung ke rumah Rusli dan mendengarkan opini-opini Rusli
mengenai ketiadaan Tuhan. Apalagi ditambah dengan pertemuannya dengan Kartini,
jelmaan wanita yang dicintai Hasan. Cinta memang dapat membutakan segalanya.
Termasuk perihal keyakinan.
Perbedaan penjabaran konflik batin antara novel Atheis dengan novel Kubah, yaitu penulis dalam novel Kubah kurang menjabarkan proses pergolakan batin tokoh Karman
hingga menjadi ateis. Dalam novel Atheis,
penjabaran seperti ini telah menjadi fokus penulis, sehingga terjabarkan dengan
lengkap. Novel Kubah sendiri
tampaknya lebih terfokus dalam penggarapan proses orang partai membentuk kader
yang handal.
Informasi perihal tragedi G30S PKI menjadi pelengkap
yang menonjol dalam novel ini. Dan Ahmad Tohari berhasil menggambarkannya
dengan apik. Kisah pengejaran komunis yang sebenarnya jarang kita dengar,
tetapi pembaca dapat merasakan ketegangan yang dahsyat dari kisah pengejaran
dan pelarian komunis di masa lalu. Di samping itu, Ahmad Tohari juga melibatkan
golongan muslim yang ikut berperan dalam peristiwa G30S PKI. Hal ini tidak kita
temukan pada novel-novel lain yang mengangkat peristiwa G30S PKI, seperti novel
Amba karya Laksmi Pamuntjak dan Pulang karya Laila S. Chudori yang lebih
menyoroti latar belakang terjadinya peristiwa G30S secara keseluruhan tanpa
melibatkan golongan muslim.
Ahamad Tohari memiliki kekhasan tersendiri dalam
mengkritik marxisme pada masa Orde Baru. Tokoh-tokoh digambarkan dalam dua
sisi, yaitu hitam dan putih. Margo misalnya, ia digambarkan sebagai tokoh
komunis yang licik (tanpa ada sisi putihnya). Karman sebagai tokoh utama
hanyalah manusia yang terbawa arus sejarah di Indonesia. Ia menjadi komunis
dengan alasan dendam dan cinta. Itupun juga karena diiming-imingi pekerjaan
yang baik. Sebenarnya banyak orang yang menjadi komunis tapi tidak tahu konsep
komunis itu sendiri. Itulah pesan penting dari seorang Ahmad Tohari yang terdapat
dalam novel Kubah.
Daftar Pustaka
Valbiant. 2012. Apakah Komunis Itu Ateis?. Diakses dari
andabertanyaateismenjawab.wordpress.com, pada 3 Januari 2016.
Tag :
Bahasa dan Sastra Indonesia,
Stop Budaya Patriarki!
By : Rika Wijayanti
Stop
Budaya Patriarki!
oleh: Rika Wijayanti
Seminar nasional
“Bahasa, Sastra, dan Kekuasaan” di FBS UNY pada 26 November 2015 lalu
menghadirkan empat pembicara. Yudi Latif dengan makalah berjudul “Bahasa dan
Mentalitas Kebangkitan”, Suminto A. Sayuti dengan makalah “Sastra dan
Kekuasaan”, Teguh Setiawan dengan makalah “Kekuasaan dalam Bingkai Bahasa”, dan
Wiyatmi dengan makalah “Menggugat Kuasa Patriarki melalui Sastra Feminis”. Tulisan
ini berfokus pada makalah Wiyatmi yang ingin mengungkapkan bagaimana sastra
feminis menggugat kuasa patriarki.
Budaya patriarki di
mana laki-lakilah yang dianggap tangguh dan perempuan adalah warga negara kedua
begitu mengakar di Indonesia, bahkan dunia. Seluruh bidang kehidupan, baik
disadari atau tidak telah meneguhkan tahta laki-laki di atas perempuan. Salah
satu contoh yang disampaikan Wiyatmi yaitu adanya kepercayaan bahwa perempuan tidak
dapat mandiri secara ekonomi. Hingga sekarang, di Indonesia, ketika seorang
perempuan ingin membuka kredit di bank, ia harus mendapatkan persetujuan bapak
atau suaminya–seorang laki-laki. Lalu, bagaimana dengan seseorang yang bapaknya
sudah meninggal dan tidak bersuami dan dia hanya anak sendiri? Ya dengan paman.
Selalu laki-laki karena dianggap lebih tepercaya.
Dalam lingkup negara,
perempuan juga masih dikesampingkan. Kedudukan perempuan di lembaga
pemerintahan sangat dibatasi. Peraturan terbaru, kuota anggota lembaga
legislatif untuk perempuan adalah 30 % dari jumlah keseluruhan. Hal ini
dimaksudkan untuk memastikan bahwa perempuan mendapat kursi, tetapi juga dapat
berarti lain yaitu pembatasan terhadap perempuan. Namun, tanpa peraturan ini,
nyatanya kursi untuk perempuan jauh lebih sedikit. Penyebabnya karena
ketidakpercayaan kaum laki-laki terhadap kepemimpinan perempuan.
Lalu, apa yang membuat
kuasa patriarki begitu langgeng hingga kini? Melihat kebiasaan masyarakat di
Indonesia, kaum perempuan sendiri memiliki andil yang dominan dalam
melanggengkan kekuasaan patriarki. Bagaimana tidak, dalam kehidupan sehari-hari
mereka masih menempatkan laki-laki pada posisi superior. Misalnya, satu keluarga
memiliki dua anak berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Orang tua,
khususnya ibu lebih banyak membebankan pekerjaan rumah kepada anak perempuan
dengan salah satu dalihnya “agar kelak dapat melayani suami (laki-laki)”. Atau
karena dialah anak “perempuan”. Di sini “perempuan” dimaknai sebagai orang yang
bekerja melayani laki-laki, mengurus pekerjaan rumah.
Ketika budaya patriarki
telah tertanam begitu kuatnya di dunia, muncullah perlawanan dalam wujud sastra
feminis yang diciptakan oleh para sastrawan feminis sebagai genre sastra yang
tidak hanya mengusung gagasan kesetaraan gender, tetapi juga ingin menciptakan
model penulisan perempuan. Sastra feminis juga melakukan kritik terhadap
ketidakadilan gender dalam penulisan sejarah sastra dan kritik sastra. Melalui
karya-karyanya, sastrawan perempuan Indonesia seperti N.H. Dini, Ayu Utami,
Djenar Maesa Ayu, Dewi Lestari, dan lain-lain berupaya menggugat kuasa
patriarki melalui dunia simbolis yang diharapkan mampu menyadarkan masyarakat
pembaca mengenai pentingnya keadilan, kesetaraan, dan eksistensi perempuan
dalam masyarakat dan negara.
Kesetaraan yang
dimaksud dalam sastra feminis bukan kesamaan antara perempuan dan laki-laki
dalam segala hal (termasuk kesamaan biologis), tetapi sebuah pandangan yang
berbeda tentang konstruksi perempuan di dalam dunia sosial. Hal ini dikarenakan
para aktivis feminis menyadari adanya perbedaan kodrat perempuan dan laki-laki.
Kesetaraan gender
seringkali terhambat oleh konstruk budaya. Laki-laki diidentikkan dengan sifat
maskulin (misalnya macho, tangguh, bertanggungjawab, dan sebagainya), sedangkan
perempuan identik dengan sifat feminin (seperti lemah, anggun, dan sebagainya). Sifat-sifat yang dilabelkan pada perempuan tersebut
menimbulkan diskriminasi. Perempuan seringkali tidak mendapat kepercayaan
karena ada label sifat “lemah”.
Selain sastrawan
perempuan, banyak juga sastrawan laki-laki yang menyuarakan feminisme, salah
satunya Y.B. Mangunwijaya. Dalam novel Rara
Mendut, Y.B. Mangunwijaya menyuarakan gagasan tentang kebebasan wanita
serta persamaan kedudukan antara perempuan dan laki-laki dalam tatanan
masyarakat yang diceritakan ulang dari cerita rakyat babad tanah Jawa. Dalam
novel ini, Y.B. Mangunwijaya memperlihatkan perbedaan posisi perempuan dan
laki-laki dalam kerajaan Pati Pragola. Semua milik raja menjadi milik sang
pemenang dalam peperangan, termasuk wanita ataupun selir raja. Perempuan disamakan
nilainya dengan harta benda. Perempuan tidak memiliki kekuatan atas kekuasaan
yang berlaku di dalam suatu daerah. Daerah mengkonstruk perempuan seperti apa
yang diinginkannya. Perempuan tidak dapat melakukan perlawanan terhadap bentuk
kebudayaan di mana kebudayaan itu telah mengakar dalam bentuk kuasa laki-laki.
Kehidupan masyarakat
pada saat itu, bahkan sampai saat ini sebagian besar masyarakat berpikir bahwa
perempuan harus bersifat feminin. Sementara itu, Y.B. Mangunwijaya menampilkan
bentuk wanita ideal dalam diri tokoh Rara Mendut yang berbeda dengan
wanita lain. Mulai dari cara berpikir sampai pekerjaan yang dilakukannya.
“Pasti lagi
gadis nelayan itu, pikir Nyai Singabarong. Perkiraan sang ibu betul. Pranacitra
memang sedang mencari gadis yang sudah berminggu-minggu menarik perhatiannya.
Seorang gadis anak sulung nelayan yang di pelabuhan nelayan terkenal dengan
sebutan Rara Ireng atau kadang-kadang juga Nyai Rara Lor, karena sangat pandai
mengatur layar, mengemudi perahu, dan tak kenal lelah bila mengayuh. Hitam
manis sembadra, tetapi hanya dalam bentuk wadaqnya. Jiwanya, semengatnya serba
trengginas Srikandi…. kekhawatiran Nyai Singabarong sebetulnya
berlebih-lebihan. Mungkin karena pikiran ibu sudah menuju ke seorang gadis
perempuan ideal dalam rumah saudagar gading Abdullah….” (hlmn 142).
Y.B. Mangunwijaya
memperlihatkan perlawanan perempuan terhadap bentuk kekuasaan patriarki. Perlawanan tersebut terjadi ketika Rara Mendut,
seorang perempuan rampasan akibat kekalahan perang diminta untuk menari. Ia mau
menuruti permintaan raja dengan memberikan sebuah syarat baru. Apabila syarat
tersebut dipenuhi, maka ia akan melakukan hal yang diperintahkan raja. Selain itu, Y.B. Mangunwijaya juga memperlihatkan bahwa
sebagian besar perempuan tidak dapat memilih (pasif). Perempuan tidak memiliki
kebebasan layakanya kaum laki-laki, bahkan dalam hal memilih pasangan sekalipun.
Perempuan hanya dipilih dan harus menerima keputusan, terlebih jika seorang
raja atau tumenggung yang menghendaki. Kebebasan perempuan ditiadakan.
Selain itu, bentuk
perlawanan lain yaitu pelarian Rara Mendut. Bentuk pelarian yang dilakukan oleh
Rara Mendut bersama dengan kekasihnya telah meruntuhkan kekuasaan tumenggung
Wiraguna terhadap perempuan. Pelarian itu adalah sebuah pilihan, dan Rara
Mendut telah memberikan pilihan bahwa perempuan bebas dalam memilih sekalipun
dalam bentuk kerajaan di mana budaya dan masyarakat patuh terhadap raja.
Gugatan dari sastra
feminis tidak selalu berjalan lancar. Berbagai tanggapan negatif terhadap
karya-karya sastra feminis bermunculan. Menurut Wiyatmi, hal ini menunjukkan
adanya kuasa patriarki yang selain meremehkan kualitas karya para sastrawan
perempuan, juga memberikan anggapan bahwa kaum perempuan harus selalu menjaga
sopan santun dalam berekspresi, termasuk dalam mengekspresikan pengalaman
keperempuanannya. Padahal ketika kaum laki-laki mengangkat tema seksualitas,
tidak ada masalah. Hal ini karena para kritikus laki-laki dianggap mewakili
suara patriarki.
Nama dan karya para
sastrawan perempuan tenggelam dalam sejarah sastra. Hal ini tidak lain
disebabkan oleh kuasa patriarki dalam struktur ilmu pengetahuan, termasuk ilmu
sastra. Wiyatmi mengusulkan bahwa untuk mengakhiri kuasa patriarki, perlu
kajian ulang terhadap karya-karya sastra di Indonesia dalam perspektif feminis.
Masyarakat perlu memberikan kemerdekaan dan apresiasi terhadap para sastrawan
perempuan untuk bebas berkreasi dan melahirkan karya-karya sastra feminis yang
dapat ikut serta menyadarkan masyarakat akan pentingnya keadilan, kesetaraan
gender, dan menghargai eksistensi perempuan, bukan malah memberikan kecaman dan
kritikan yang merendahkan.
Penulis setuju dengan
usulan Wiyatmi di atas. Perempuan memiliki hak untuk memperjuangkan apa yang
telah menjadi haknya, yaitu kesetaraan gender. Di sisi lain, perempuan juga
harus bertanggung jawab atas perbuatannya yang turut serta melanggengkan kuasa
patriarki. Jadi, apabila ingin menghentikan kuasa patriarki, maka perempuan
tidak bisa hanya melawan dengan senjata sastra feminis saja, tetapi juga harus
menghentikan praktik budaya yang menempatkan laki-laki pada posisi superior. Negara
juga harus menetralkan aturan-aturan yang sekiranya memarginalkan kaum perempuan.
Melalui usaha bersama dari seluruh lapisan masyarakat, semoga kesetaraan gender
antara laki-laki dan perempuan dapat terwujud.
Tag :
Bahasa dan Sastra Indonesia,





